Apakah yang anda bayangkan jika
mendengar kata cendol? Pasti terbayang manis, wangi dan segarnya dikala kita
menyeruputnya. Es cendol akan sangat
cocok diminum saat cuaca terik. Sebenarnya
cendol ini dari mana asalnya ya? Kata cendol sendiri lebih identik dari daerah
sunda, kalau di jawa menyebutnya dengan dawet. Cendol sendiri berasal dari kata
jendol. Jendol bisa diterjemahkan gumpalan. Pasti terbayang sensasinya pada
saat menikmati isian cendol yg berbentuk gumpalan kecil nan lembut ini.
Minuman dengan bahan sederhana ini
ternyata menjadi minuman favorit sebagian besar masyarakat Indonesia. Minuman
yang mampu membius siapa saja yang meminumnya karena kesegarannya. Minuman satu
ini memang paling cocok diminum saat siang hari atau musim kemarau. Perpaduan gula jawa yang manis dicampur
dengan santan putih dari kelapa, ditambah aroma pandan. Bagi pembeli yang suka
dengan dinginnya minuman ini bisa ditambahkan dengan es serut.
Bagi kami warga di jawa minuman cendol atau
dawet memiliki kenangan tersendiri. Berbagai acara adat menggunakan dawet ini
sebagai baik sebagai pelengkapan hidangan, ataupun melestraikan budaya bangsa.
Bahkan memberikan bayank pelajaran bagi tamu yang hadir dalam acara adat
tersebut.
Pernahkan pembaca sekalian hadir pada
acara adat temu paggih pengantin di Jawa? Pertama akan kita cermati makna yang
terkandung pada hidangan dawet di acara pernikahan. Cendol atau dawet apada
acara pernikah melambangkan atau menjadi simbol agar rezeki dari kedua mempelai
lancar, selancar lajunya cendol mengalir ditenggorakan. Disamping itu bentuk
dawet yang bulat melambangkan kebulatan tekad kedua mempelai untuk hidup
bersama mengarungi bahtera rumah tangga.
Hal menarik lain dibalik secawan dawet
pada acara pernikahan adalah tamu membayar dawet tersebut dengan kereweng atau
pecahan genting bukan uang. Makna yang terkandung dalam pembayaran menggunakan
kereweng yang terbuat dari tanah liat ini, semua kembali kepada bumi. Manusia
sejatinya dinafkahi dari bumi dan akan kembali lagi ke bumi.
Kekhasan lain yang nampak dari sisi
penjualnya, sosok yang melayani pembeli dan menerima uang pembayaran adalah
kedua orang tua mempelai. Ada maksud apa gerangan? Ternyata ini pelajaran yang
sangat berharga untuk mempelai dan semua hadirin tamu undangan. Kerjasama dalam
mencari nafkah adalah tanggung jawab bersama. Kepala keluarga berkewajiban
mencari nafkah sedangkan isteri mempunyai tanggung jawab melayani.
Kedua pada acara prosesi tujuh bulanan
atau menghadapi kelahiran. Harapan yang tersembul dari hidayangan dawet ini
adalah agar bayi bisa lahir dengan mudah layaknya proses mencetak dawet.
Ketiga sebagian sesepuh di Jawa
memandang kehidupan itu sangat sederhana. Seperti halnya dawet dalam sebuah
gelas, ada keras dan lembutnya, ada manis dan asamnya, ada gurih dan tawarnya.
Sama halnya dengan kerasnya kehidupan, apabila dilalui dengan perjuangan
dan penuh kesabaran, makan akan
membuahkan hasil yang manis. Sebagaimanan proses dalam pembuatan segelas
cendol.
Ketekunan dan kesabaran dalam proses
pembuatan cendol melambangkan perjuangan sederhana yang digambarkan sesepuh di
Jawa. Mencetak cendol agar tidak menggumpal, memarut kelapa dan menjadikannya
santan yang putih bersih. Bagaimana menyiapkan larutan gula yang manis dan
tidak meninggalkan rasa pahit akibat kelamaan memasak. Tidak ketinggalan
bagaimana membuat pewarna alami dari daun suji. Sebuah keajaiban terjadi pada saat cendol
diramu dalam sebuah gelas atau cawan. Gelas kosong siap di isi secara bertahap cendol,
santan, es serut baru disiram air gula dan diaduk ternyata sangat nikmat untuk
diteguk.
Makna yang terkandung di dalam segelas
cendol bisa kita terapkan dalam pembelajaran jarak jauh saat ini. Proses
merasakan susahnya pembelajaran jarak jauh suatu saat akan mendapatkan hasil
yang memuaskan. Proses pembelajaran kepada masyarakat mulai membuahkan hasil.
Masyarakat rajin menjaga kebersihan diri dengan melaksanakan anjuran 3M.
Kehidupan di dalam keluargapun lebih hidup, karena sebagian besar waktu orang
tua dan anak dihabiskan di rumah.
Kegiatan belajar anak lebih terpantau
oleh orang tua, komunikasi orang tua dengan guru mata pelajaranpun lebih dekat
dibanding dengan pembelajaran di sekolah. Pada saat KBM dilaksanakan di
sekolah, orang tua datang ke sekolah pada saat pengambilan raport,
memperpanjang KJP bagi yang menerimanya dan memenuhi panggilan dari sekolah
jika ada masalah yang berhubungan dengan anaknya. Kedatangan orang tuapun hanya
terbatas menemui wali kelas, kesiswaan atau guru BK.

0 Komentar