![]() |
| Retno L salah satu narasumber acara diskusi Imparsial |
Di kala badan sudah letih setelah
melakukan pendampingan peserta didik dalam melaksanakan pembelajaran jarak
jauh, ingin rasanya segera rebahan meluruskan pinggang. Namun apa boleh buat
ketika ada perintah dari kepala sekolah, untuk menghadiri undangan dari Imparsial
dan Yayasan Cahaya Guru.
Kegiatan yang akan dilaksanakan hari ini
juga, Senin tanggal 08 Februari 2021. Tanpa menunggu waktu langsung ku klik
tanda biru di alamat link zoom. Karena waktu sudah menunjukkan pukul 12.53,
sementara di undangan tertera acara akan dimulai pukul 13.00 – 15.00 WIB.
Basmallah aku lafadzkan saat mulai mengaktifkan zoom tersebut. Semoga dengan
niat yang ikhlas, Allah SWT memudahkan dalam menyerap materi yang akan
disampaikan narasumber.
Tema yang diangkat dari penyelenggara adalah
“Sekolah Sebagai Penyemai Toleransi: Respon Terhadap SKB 3 Menteri".
Sebuah kegiatan diskusi yang mendatangkan tokoh-tokoh penting dalam hubungannya
dengan hak asasi manusia. Imparsial mendatangkan Beka Ulung Hapsara dari Komisioner Komnas HAM
RI, Retno Listyarti dari komisioner KPAI dan
Alissa Wahid dari Koordinator Nasional Jaringan Gusdurian.
Sementara dari pihak penyelenggara sendiri
diwakili oleh Henny Supolo Sitepu (Ketua
Dewan Pengurus Yayasan Cahaya Guru) dan Ardi
Manto Adiputra (Wakil Direktur Imparsial). Kelima tokoh yang menjadi narasumber
ini memberikan materi berkisar kepada isu di masyakat terhadap penolakan SKB 3
menteri.
Fenomena yang marak akibat adanya kasus di
SMK Negeri 2 Padang, yang melatar belakangi kegiatan ini digelar. Kebebasan
Beragama dan Berkeyakinan (KBB) yang disampaikan oleh Beka Ulung Hapsara adalah “hak asasi manusia”. Negara tidak bisa memaksa atau melarang warga negaranya untuk memeluk salah satu
agama dan menjalankan ajarannya. Namun negara akan melarang jika pelaksanaan
ibadahnya mengganggu umum, misalnya shalat di tengah jalan raya, lanjut beliau.
Dunia
pendidikan tidak hanya diurus oleh guru, siswa dan orang tua, tetapi
partisipasi semua masyarakat dan tokoh. Hal ini dimaksudkan supaya mampu
menempatkan pendidikan pada tempatnya. Kerja sama dari berbagai komponen
masyarakat mampu mencegah munculnya masalah khususnya dalam pelanggaran hak
asasi.
Jika
pelanggaran terjadi maka akan sulit mengambalikan kepada kondisi yang diinginkan.
Persemaian nilai kemanusiaan bukan ajang politik, egoisme atau eksistensi dari
suatu kelompok. Komnas HAM siap membantu kalau ada kasus. Harapan Komnas HAM tidak
ada kasus karena warga negara sudah saling menghormati, bukan karena takut
melaporkan.
Toleransi mempunyai urgensi karena setiap
agama atau keyakinan memiliki kebenaran
absolut bagi pemeluknya. Kebenaran absolut terkadang menumbuhkan rasa kepemilikan penganutnya dan berbenturan
dengan keyakinan dari orang di sekelilingnya. Penanaman kesadaran toleransi di
lingkungan sekolah sangat penting. Sekolah sebagai taman untuk belajar, akan
lebih mudah dalam menyemai rasa toleransi agar tumbuh menjadi subur.
Kesadaran dari penganut agama ataupun
kepercayaan akan menghapus diskriminasi dan mendorong toleransi meniscayakan
keterbukaan semua komunitas masyarakat. Sebagaimana yang disampaikan oleh Alissa
Wahid “Indonesia dibangun berdasar keberagaman”. Usaha mempertahankan kesatuan dan persatuan bukanlah hal mudah. Indonesia membutuhkan
warganya memiliki jiwa besar dalam
menjaga perdamaian dan keadailan.
Retno Listyarti menyampaikan apresiasi atas
nama KPAI untuk SKB 3 menteri. Jikalau ada yang kurang, mari kita berikan masukan bukan menghapusanya. Hal ini untuk mendorong toleransi keberagaman,
pintu masuk menempatkan sesuatu sesuai keadilan, semuanya menghargai. Problem
sekolah negeri masalah sangat beragam karena adanya deskriminasi dan tekanan
terhadap agama minoritas.
Sebagai contoh dalam pembelajaran,
beberapa sekolah tidak menyiapkan ruangan khusus. Sehingga kalangan minoritas
menggunakan ruangan yang memungkinkan untuk melaksanakan kegiatan belajar. Marilah
secara bersama-sama kita kawal kebijakan dari pemerintah. Kebersamaan akan terjalin
dan menguatakan keberagamaan yang ada. Keberagamaan sebuah keniscayaan sehingga
bukan ditentang.
Henny Supolo menyampaikan isu yang dibicarakan
bukan agama tapi kemanusiaa. Mari temani guru untuk mencari cerita baik agar tidak mengganggu rasa kemanusiaan.
Sekolah guru kebinekaan menjadi alternatif dalam menambah wawasan bersama.
Ardi Manto mengungkapakan intoleransi dan
radikalisme wajib ditolak dari lingkungan sekolah tetapi hidupkan semangat
bertoleransi. Kebiasaan yang berkembangan di sekolah perasaan superior yang
akan memaksakan kehendak kepada kelompok minor, harus mulai dikikis.

0 Komentar